I left my heart in Bukittinggi

Tiga Oktober kemarin, untuk merayakan 15 tahun pernikahan kami, saya ajak istri dan anak-anak berlibur ke Bukittinggi. Kota ini selama ini menjadi idaman kami tapi belum pernah kesampaian. Sampai suatu saat Tiger Airways (Mandala) memberikan tiket promo free return, akhirnya terpikir untuk mewujudkan impian kami.

Bangun subuh-subuh, agak buru-buru ke bandara. Tapi belum juga parkir di parkir inap Terminal 3, istri nelpon dari counter Tiger, “Katanya penerbangan Tiger ke Padang udah ngga ada lagi”. Alamak…gimana nih, padahal kemarin malamnya saya telpon ke informasi bandara katanya ada penerbangan RI80 ke Padang jam 6. Waduh…untungnya saya yang ngga rela liburan batal gara-gara ini ambil keputusan kilat, kita cari pesawat lain. Urusan refund dari Tiger nanti aja. Dan kita dapet Lion jam 8. Syukurlah, artinya liburan kita tetap jalan.

Singkat cerita, kita sampai di Bukittinggi diantar oleh mobil sewaan. Oya kita ke Bukittinggi lewat Padangpanjang. Di sana ada replika istana Pagaruyung. Bagus seperti aslinya hanya ukurannya lebih kecil walau pun tetep segede rumah gadang juga. Di sini kita bisa sewa baju adat Minang. Dan saya pun sekeluarga jadi ditanggep beberapa kali ama turis-turis Malaysia untuk diajak foto bersama.

Terus kita juga sempet disinggahin di Pandai Sikek. Di sini banyak perajin tenun. Harganya lumayan mahal bo, jadi cuma liat-liat aja.
Sebelum ke hotel kami jalan ke Ngarai Sianok yang tersohor itu. Dari jauh sih ngarainya ngga terlalu menonjol, malah lebih enak ngeliat Gunung Singgalangnya.

Kita sempet masuk ke Lobang Jepang, yang sebenarnya sama aja kayak gua-gua Jepang di tempat lainnya.

Yang saya suka tuh waktu ke Great Wall (lucunya mereka nyebutnya Tembok Cina, bukan Tembok Besar hehe), kita bisa turun sampai ke dasar lembah. Pemandangannya cakep bener di sini. Betah rasanya berlama-lama di sini.

Kita nginap di The Hills Hotel, atas rekomendasi Tripadvisor yang ngasih ranking #1 untuk hotel di Bukittinggi. Dan emang ngga salah. Hotelnya bergaya klasik mediteran, serasa kayak di Turki gitu hehe…kamar deluxe saya ngadep ke Ngarai Sianok…whoaaa pemandangan dari jendela cakep banget.

Enaknya lagi, ke Jam Gadang tinggal jalan kaki sepelemparan batu. Enaknya sih ke Jam Gadang ini pagi-pagi, karena dari siang sampai malam area terbuka sekitaran jam tersebut dipenuhi pedagang kaki lima yang ngegelar dagangan seenaknya. Anyway, saya suka dengan Jam Gadang ini. Ikonik banget. Dan dari situ juga bisa ngeliat ngarai dan gunung dengan bebas.
Kemana aja selama di Bukittinggi? Hari kedua kita ke Lembah Harau. Saya pengen banget liat air terjun Payakumbuh yang katanya tertinggi ketiga di Indonesia. Tapi kecewa banget, ternyata ngga ada airnya. Heran ya, Sipiso-piso yang lebih rendah debit airnya gede banget, ini mah kayak keran macet. Anyway Lembah Haru itu indah dan damai banget.

Dari situ kita lanjutin ke Istana Pagaruyung di Batusangkar. Istananya sih biasa aja, karena sebelumnya udah liat replikanya di Padang Panjang. Tapi pemandangan alam Batusangkar itu cakep euy, banyak sawah dikelilingi Bukit Barisan. Ngga nyesel deh ke sini.

Dari Istana Pagaruyung kita lanjutin ke Danau Singkarak. Danau ini ombaknya gede karena angin yang kencang. Pemandangannya juga menurut saya biasa aja, lebih bagus Danau Beratan di Bedugul. Yang menarik di sini adalah Ikan Bilih yang konon hidupnya cuma di danau ini, dan semua resto di Jakarta yang punya menu Ikan Bilih kudu impor dari danau ini.

Yah, hari kedua ngga terlalu seru tapi tetap menyenangkan.

Di hari ketiga, kita rencana pagi-pagi ke Danau Maninjau. Saya sebenarnya agak underestimate dengan danau ini. Paling juga kayak Singkarak. Tapi setelah sampai di sana…alamak…apalagi waktu kita sampai di Puncak Lawang, air mata menetes saking harunya….Allah Maha Besar…pemandangan indah danau Maninjau tanpa halangan dari puncak bukit tempat take off paralayang ini benar-benar spektakular. Sebelum ini saya menobatkan pemandangan danau Toba dari Sipiso-piso sebagai yang terbaik, ini lebih bagus lagi. Kereeen banget. Pokoknya kalo ada yang ke Bukittinggi tapi ngga sampe ke Maninjau pasti akan saya maki-maki hehe…

Dan saya pun menobatkan Maninjau sebagai tujuan favorit saya. Suatu saat saya akan kembali…I promise.

Dari Maninjau kita bertolak kembali ke Padang. Di kota Padang kita nginap di Hotel Striwijaya. Ini rumah yagn disulap jadi hotel, jadi suasananya homey banget. Sebelum ke hotel, kita ngeluyur ke Pantai Air Manis dulu, penasaran pengen liat Batu Malin Kundang si anak durhaka. Tapi mengecewakan. Jalannya ngga terlalu bagus, pantainya juga biasa aja, dan batu Malin Kundang juga udah terbenam pasir sebagian. Konyolnya pemda bikin batu tiruan dari semen yang keliatan kayak bekas-bekas kapal si Malin. Jadi ngga alami gitu. Males ah…

Di hari Minggu, sebelum kembali ke Jakarta, sopir kita nawarin ke Pantai Carocok. Pantai ini agak jauh dari Padang, sekitar 2 jam, adanya di Pesisir Selatan. Ok lah, daripada muter-muter di sekitar Padang juga ngga ada yang menarik.

Berangkat pagi-pagi, sampai sana sekitar jam 11, wadow panasnya minta ampun. Langsung beli topi lagi yang lebih lebar. Eh baru jalan ke arah belokan ke kanan menuju pantai ternyata banyak pohon rindang, asem dah ngapain beli topi haha…

Pantai ini menarik juga, walau pun kalo buat mandi mah ngga terlalu bagus. Di sini dibangun jembatan yang menghubungkan daratan dengan pulau kecil yang saya ngga tau namanya. Sebenarnya ngga perlu jembatan, jalan kaki ngelewatin air juga bisa karena cetek ngga sampe sedengkul. Tapi jadi menarik ada jembatan kayak gini. Airnya bening banget. Di kejauhan ada pulau kecil yang rame didatengin pake perahu. Cuma saya dah males pergi, biarin deh anak-anak main di pasir. Sementara saya foto-foto aja. Pemandangannya lumayan bagus, apalagi kalo motret pake lensa lebar ditambah filter CPL, wuih top banget dah hasilnya.

Lumayan sekitar 2 jam-an kita di sini sebelum akhirnya berangkat ke bandara.

Dan selalu seperti yang sudah-sudah, liburan ditutup dengan kekesalan menunggu pesawat yang delay. Biyung….si singa terbang ini emang keterlaluan. Bukan delay-nya yang bikin kesel, tapi petugasnya yang ngeles, jawabannya yang ngasal atau ngga konsisten itu yang bikin kita pengen nonjok rasanya.

Saat saya nulis ini, saya lagi di dalam pesawat Garuda mau take off ke Lombok tapi nunggu lama karena traffic bandara yang sangat padat. Saya sadari delay bukan kesalahan carrier semata, tapi emang bandara Soetta ini udah terlalu crowded sehingga pesawat mana pun sudah on-time. Dan sekali delay, merembet ke penerbangan berikutnya. Cuma ya itu, jawaban yang ngeles gitu bikin panas aja.

Ah udah lah…walau pun sampe rumah jam 1 pagi, tapi sebelum tidur saya bersyukur mendapat kesempatan ke Bukittinggi. Tempat yang indah banget. Saya pasti rekomendasikan temen-temen untuk berkunjung ke sana. Dan kalo ke sana, kalo sampe ngga ke Maninjau pasti akan saya maki-maki haha…

 

Pos ini dipublikasikan di Jalan-jalan, Keluarga dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Monggo diberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s