Museum Sumpah Pemuda

Gara-gara anak dapet tugas untuk ke museum atau taman makam pahlawan dalam rangka hari Pahlawan, saya akhirnya menginjakkan kaki ke Museum Sumpah Pemuda. Keterlaluan ya. Pilihan ke museum ini setelah perenungan panjang (ceileh pake merenung dulu). Kalau ke museum Fatahilah ngga ada apa-apanya. Ke Museum Nasional ngga keliatan perjuangan para pahlawan. Ke Museum Layang-layang apa lagi, sangat ngga nyambung khan hehe…Jadi dengan pertimbangan Sumpah Pemuda yang paling dekat dengan sejarah kepahlawanan Indonesia, maka saya milih Museum ini. Ada juga temen-temen anak saya yang ke Lubang Buaya, tapi saya keukeuh, karena saya berpendapat Pahlawan Revolusi itu tidak berjuang dan terus terang sejarahnya pun masih kabur sampai sekarang. Ah udah, kelamaan bahas inian.

 

Sebelum berangkat saya sempet tergelitik. Bukan di pinggang sih, tapi di hati ini. Pertanyaan pertama saya, kenapa ya dulu waktu proklamasi semua suku bangsa di Indonesia bisa bersatu ke dalam negara RI? Khan bisa aja mereka merdeka sendiri-sendiri, wong selama ini mereka juga kerajaan-kerajaan sendiri, hanya emang senasib yaitu dijajah Belanda. Ternyata saya dapet jawabannya : karena adanya Sumpah Pemuda. Kenapa ada Sumpah Pemuda? Karena pemuda-pemuda di daerah-daerah yang berbeda waktu itu sadar, mereka ngga akan menang lawan Belanda kalo ngga bersatu. Belanda jumlahnya mah seiprit, sedangkan pejuang dari berbagai daerah di nusantara kalo dikumpulin jauh menang jumlah. Kita kencingi rame-rame aja si Londo bisa tenggelam kok hehe…Jadi, Sumpah Pemuda itu punya arti sangat penting, tidak hanya bagi kemerdekaan RI tapi juga dalam mempersatukan semua daerah di bawah negara RI. Wah makin mantap dah ke Museum ini.

 

Tau ngga tempatnya? Museum ini ada di Jl. Kramat Raya, deket flyover Senen, kalo dari Salemba ada di sebelah kiri jalan. Tempatnya ngga terlalu besar, kalo bawa mobil hati-hati kita nanti digiring untuk parkir pinggir jalan terus mobil kita didempul deh hehe di pinggir jalan itu emang banyak banget tukang cat duco amatiran.

 

Museum ini dulunya asrama pelajar yang sekolah di Stovia. Lalu sering dijadiin tempat ngumpul para pemuda Jong Java. Akhirnya dipilih sebagai tempat penyelenggaraan Kongres Pemuda II. Ngga kebayang orang segitu banyak tumplek buat hadiri kongres di gedung sekecil ini ya…ck..ck..salut…

Kalau mau masuk kudu beli tiket. Mahal ngga? Whoaaaa…mahal banget! Serebu perak. Hah? Bener, cuma serebu…lebih murah daripada masuk toilet ya hehe…karena ini punya pemerintah jadi disubsidi oleh APBN. Gedungnya lumayan terawat kok hanya sayang ngga ada yang jualan, baik souvenir mau pun makanan.

 

Baru masuk kita akan disambut dengan patung-patung yang sedang berdiskusi di ruang tamu. Sebenarnya di sini lebih banyak memajang foto atau tulisan cerita tentang sejarah sumpah pemudanya, tapi benda-benda sejarahnya dikit banget. Cuma ada biola punya WR Supratman yang dipake mainin lagu Indonesia Raya waktu Konggres itu. Bandingin ama museum Flag Tower di Hanoi yang menyimpan sangat banyak benda-benda terkait dengan perjuangan kemerdekaan mereka mulai dari pesawat, tank sampai topi, baju dan pecahan peluru pun masih disimpen. Kalo dari sisi koleksi ini emang kita patut iri sama Vietnam.

 

Tapi bagaimana pun museum ini tepat menarik. Beberapa kali mata saya berkaca-kaca, terbawa suasana saat membaca betapa bersemangatnya para pemuda itu untuk berkumpul dan bersatu demi untuk memerdekakan negerinya. Apalagi waktu membaca teks pidato Muhammad Yamin…ah rasanya kalo ada Belanda di depan saya udah saya cincang saking berkobarnya nasionalisme di dada saya saat itu. Selain itu senang juga melihat teks lagu Indonesia Raya yang ditulis di dinding, lengkap dalam 3 stanzah (kalian pasti ngga hapal syair keseluruhan khan, berani potong kuping deh hehe)…

Satu lagi yang saya suka adalah tulisan Ki Hajar Dewantara. Mestinya para pemimpin kita baca tulisan ini, mana tau mereka malu ati dan insap.

 

Ngga terasa waktu jua yang mengakhiri kunjungan saya ke museum ini. Lebih tepatnya perut ini yang memaksa kita untuk keluar dari museum untuk mencari pengisi perut. Kunjungan yang singkat, tapi bagi saya pribadi ini kunjungan yang sangat menarik. Saya jadi tambah nasionalis. Apalagi abis nonton tim kesebelasan Indonesia dilibas tim Malaysia, ah seandainya ada orang Malaysia di sebelah saya tadi udah saya tendang hahaha…itu ultra nasionalis namanya ya…Hmmm coba kalo usulan Muhammad Yamin untuk memasukkan Semenanjung Melayu ke dalam negara RI waktu nyiapin proklamasi RI diterima, mereka masuk RI tuh jadi ngga perlu ada berantem kayak gini. Eh ngelantur kemana-mana. Udah ah…hidung mampet neh…

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Monggo diberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s