Is your pet really part of your family?

Siang ini ketika saya mau berangkat lagi dari rumah, di gerbang depan perumahan satpam mencegat saya.

“Pak, kucing bapak ketabrak.”
“Waduh kapan? Kok orang rumah ngga ada yang ngasih tau?”
“Barusan pak.”
“Oya?”
“Iya pak, ketabrak mobil bapak sendiri.”
“Ah masa…tadi saya berangkat di jalan ngga ada kucing kok…”

Saya langsung ngebut balik ke rumah. Dalam hati saya, jangan-jangan waktu saya mundurin mobil kucing itu ada di belakang. Tapi ngga ah, kayaknya tadi ngga ada apa-apa. Lagian anak saya ada di garasi ngasih makan kucing yang lain, jadi pasti dia akan tau kalo ada kucing ini di jalan.

Ternyata kejadiannya, pas saya keluar gerbang cluster, jalan pelan-pelan, eh si kucing lari mau pulang melintas di belakang mobil. Apesnya dia masuk ke ban belakang mobil saya.
Waktu saya liat di pos satpam, kucing ini, namanya Hainy, udah berlumuran darah. Saya langsung mual, karena saya emang ngga bisa liat darah. Bisa-bisa nanti saya yang semaput nih.

Yang ada dalam pikiran saya tadi itu, Hainy kayaknya ngga akan selamat. Jadi kayaknya mending bawa ke rumah terus tungguin saat-saat terakhirnya. Tapi ternyata takdirnya ngga kayak gitu. Hainy masih bisa duduk diam, dengan nafas kayak orang ngorok (mungkin karena saluran nafasnya penuh darah). Salut saya ngeliat kekuatan dan ketahananya.

Tapi tiba-tiba saya merasa kayak ditampar. Selama ini dialah kucing kesayangan kami yang paling tenang, lembut, ngga pernah nyusahin, anteng, paling disukai anak-anak. Lalu kenapa saya sekarang ngga punya pikiran untuk nyelametin nyawanya? Ini sama aja saya ngebuang dia. Toh saya juga yang nabrak dia, kalo boleh dibilang gitu. Berarti saya mesti tanggung jawab dong.

Akhirnya saya bawa dia ke dokter hewan deket rumah, tapi tetap aja saya pesimis Hainy bisa selamat. Matanya udah rusak (agak melotot keluar) dan lidahnya terjulur terus dengan darah netes-netes. Tapi yah biarlah nanti dokter yang lebih tau kondisinya. Sampai di dokter, dia bersihin mulut Hainy pakai kapas. Lalu dokter itu bilang, pak rahang kucingnya patah. Tapi dia bisa bertahan hidup, hanya mungkin ngga akan lama tapi juga ngga akan sebentar. Dia akan kehabisan darah dan ngga bisa makan. Sekali lagi saya punya pikiran, dengan alasan perikemanusiaan, ngga tega ngeliat penderitaannya, gimana kalau dia disuntik mati aja? Dokternya langsung bilang, suntik mati sekarang hanya untuk kasus dimana hewan udah ngga bisa diselamatkan. Dalam kasus kucing bapak, masih besar harapan dia akan hidup. Jadi saya ngga bisa pak. Lalu dia malah ngasih rujukan ke dokter hewan spesialis bedah di Fatmawati.

Saya tertegun. Maaf ya Hainy, kalau saya sempat punya pikiran akan ngebuang kamu, merasa lebih sayang uang saya daripada kamu. Baik, kita ke Fatmawati, saya akan mengusahakan yang terbaik buat kamu, sama seperti dulu saya mengusahakan yang terbaik untuk Yudhistira.

Lalu saya dengan hati-hati bawa dia ke mobil langsung cabut ke Fatmawati. Sebelumnya dokter spesialis ini sudah dikontak oleh dokter hewan yang tadi dan saya sudah dikasih ancer-ancer alamatnya lengkap.

Tapi sampai di tujuan ternyata harus menunggu karena dokternya sedang dalam perjalanan. Kembali saya salut dengan Hainy. Mata satunya yang masih normal menatap saya dengan teduh seperti biasanya. Ah saya jadi merasa bersalah. Kalau ngga karena ada anak saya Jingga di situ, mungkin saya udah nangis karena kasihan. Tapi saya mesti kuat, karena kalau saya keliatan sedih nanti Jingga pun akan lebih sedih lagi. Jadi saya menguatkan diri.

Setelah dokternya datang, dia langsung melakukan rontgent. Trus saya diminta tanda tangan persetujuan untuk melakukan tindakan pembiusan dan bedah. Tapi kemudian dia keluar lagi, dan bilang ternyata tidak hanya tulang rahang Hainy yang patah tapi tengkorak kepalanya di sekitar mulut hancur. Tapi otaknya masih bagus, jadi kalau setuju bisa dilakukan operasi besar untuk menyambung tulang tengkorak yang patah-patah itu. Harapan keberhasilannya 50-50. Kalau setuju saya mesti tanda tangan lagi.

Saya jadi teringat waktu dulu saya dihadapkan pada hal yang sama ketika anak saya sudah dinyatakan dokter tidak ada harapan lagi tapi saya ngotot mau nyelametin dia. Tapi saat ini kans hidup lebih besar. Jadi kalau dulu dalam situasi tidak ada harapan aja saya bisa memutuskan lakukan sekuatnya whatever it takes, kenapa sekarang ngga? Masalahnya, dulu itu anak saya, sekarang kucing saya. Nah ini dia maksud judul tulisan di atas. Apakah saya benar-benar menganggap Hainy sebagai bagian dari keluarga saya? Bertahun-tahun dia tinggal bersama kami, dengan segala kelembutan dan kesetiaannya. Apakah dia tetap seekor binatang yang bisa saya ganti dengan binatang lain setiap saat? Ngga lah! Dulu waktu saya bilang ke anak saya untuk mengurangi jumlah kucing di rumah, tanpa pikir panjang kita semua bilang, Hainy harus tetap tinggal, yang lain boleh kasih ke orang.

Jadi, saat dokter bertanya ke saya, gimana pak jadi dilanjutkan operasi? Lalu saya terbayang tadi pagi saya masih mengelus kepala Hainy yang menatap saya dengan mata teduhnya. Dan saya mengangguk mantap.

“Biayanya sekitar 2,5 juta pak”

Saya tetap mengangguk mantap. Uang yang sebenarnya cukup untuk membeli beberapa kucing lain tidak sebanding dengan nyawa Hainy. Mata saya berair. Tuhan, ijinkan Hainy untuk tetap tinggal bersama kami.

Dan saat saya menulis ini, kami sedang dalam penantian panjang selesainya operasi besar terhadap Hainy. Mudah-mudahan semuanya selesai dengan baik. Saya menguatkan hati anak saya dengan cerita-cerita yang lucu. Saya bilang ke dia, nanti mata Hainy yang buta itu (kata dokter akan diambil karena sudah rusak) kita kasih penutup mata hitam kayak bajak laut.

Update malam ini : operasi penyambungan tulang tengkorak selama 3 jam berhasil, mata Hainy tidak jadi diangkat karena mungkin ada harapan. Sekarang dia terbaring lemas di kandang dengan infus di kakinya. Semoga cepat pulih kucingku sayang…

Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Is your pet really part of your family?

  1. ari berkata:

    pagi pak,
    saya jd terharu membacanya
    gmn kondisi kucingnya sekarang pak?

Monggo diberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s