Yogya day 3: Merapi – Sendang Sono – Borobudur

Setelah semalam tidur yang lelap karena kecapean, pagi ini saya bangun dengan badan segar. Wah mesti buru-buru mandi nih, karena jam 7 kita bakal dijemput dan kudu check out dulu karena akan pindah hotel. Ya, saya mau nyari suasana lain jadi nyari hotel yang lebih minggir dari Jogja. Saya udah pesen hotel Rumah Mertua di daerah Palagan Tentara Pelajar deket hotel Hyatt.

Tanpa sarapan kami langsung berangkat. Saya minta ke Rumah Mertua dulu nitip tas dan terutama nitip suntikan hormon anak saya yang harus disimpan di kulkas. Setelah itu baru ke Merapi.

Perjalanan ke Merapi melewati jalan Kaliurang.

Kalo mau ngeliat Merapi dari deket, ya sebaiknya ke Kinah Rejo, tempat kediaman mendiang Mbah Maridjan. Letaknya di lereng Merapi, jadi bisa ngeliat gunungnya tanpa halangan. Dan bisa ngeliat sisa-sisa keganasan letusan sang gunung.

Sampai di Cangkringan, kita diminta bayar retribusi (lupa berapa), terus parkir di tempat yang banyak warung-warungnya. Dari parkiran ini, kalo mau menuju ke tempatnya Mbah Maridjan masih sekitar 2 kilo jaraknya, bisa jalan kaki, sewa ojek 20 ribuan atau sewa mobil jeep. Saya milih naik ojek, sewa 2 motor. Jalannya lumayan nanjak, jadi kalo jalan kaki dijamin ngos-ngosan.

Pertama kami diantar sampai ke ujung desa Kinah Rejo, kawasan pemukiman terdekat dengan Merapi. Di sini udah ngga ada yang tinggal karena semua penghuninya tewas tersapu wedus gembel. Si tukang ojek ini merangkap tour guide ngejelasin banyak terutama tentang kejadian waktu Merapi meletus 2 taun lalu itu. Dari sini juga terlihat kawasan wisata Kaliadem yang dulu katanya banyak penginapan, telah tertutup material pasir dan batu. Sama sekali tidak kelihatan sisa kehidupan di sana. Mendadak saya merasa pedih, hati kayak diiris.

Rasa pedih itu bertambah lagi saat saya diantar ke bekas kediaman Mbah Maridjan yang terletak di jalan yang agak memutar dari situ. Di lokasi ini diletakkan mobil APV dan sepeda motor yang hanya tinggal rangkanya saja. Kebayang betapa dahsyatnya wedus gembel itu.

Di sebelahnya ada sepetak tanah yang diberi pagar, di tengahnya ada semacam saung kecil. Kata guide saya, ini bekas rumah Mbah Maridjan, dan saung itu adalah tempat di mana jenasah beliau ditemukan. Aduh, saya jadi sedih banget. Ya Allah, memang hidup mati kami Engkau yang menentukan. Tapi mengapa Engkau berikan cara kembali kepadaMu seperti ini?

Di seberang tanah petak itu berdiri warung yang dibuat oleh anak Mbah Maridjan. Di situ ada ibu tua yang duduk kadang diajak ngobrol sama pengunjung. Ternyata beliau adalah Mbah Putri, istri Mbah Maridjan. Kami datangi dan salami beliau. Sempat saya ngga tahan untuk ngga ngeluarkan air mata. Dulu saya kehilangan orang-orang yang saya sayangi dengan cara yang “normal” aja rasanya sakit banget, apalagi kayak beliau yang ditinggal suami dengan cara kayak gitu.

Di dekat lokasi itu terbentang Kali Opak. Kali ini ngga ada airnya, hanya gundukan pasir dan batu sisa lahar Merapi. Pemandangan dari sini cukup dramatis. Agak heran juga saya kenapa Mbah Maridjan memilih tinggal di deket kali ini.

Sehabis menyelipkan sumbangan buat si Mbah Putri dan belanja souvenir kaos di warung putrinya si mbah, kami balik ke pos parkiran.

Di Cangkringan ini juga masih terlihat sisa-sisa amukan wedus gembel. Walau pun dalam 2 taun alam sudah mulai memulihkan diri (bukti bahwa Merapi memang memberikan kesuburan yang luar biasa), tapi batang-batang pohon yang hangus masih berdiri tegak seakan mengingatkan kita untuk selalu tunduk kepada alam. Terima kasih Tuhan, hari ini saya berhasil mewujudkan niat saya untuk berkunjung ke sini, yang sudah saya tekadkan sejak letusan Merapi dua tahun lalu.

Selepas Merapi sudah jam 11an. Karena panas terik, saya memilih untuk ke Sendang Sono dulu baru ke Borobudur agak sorean biar ngga kepanasan.

Setelah bertahun-tahun ngga ke sini, kangen juga pengen ngerasain teduhnya suasana di gua Maria di sini. Di sini kami berdoa untuk keberhasilan terapi Jingga. Tesla berdoa agar bisa menjadi pastor. Ah semoga Engkau berkenan ya Allah.

Dan satu hal lagi yang saya syukuri….dulu waktu ke gua Maria Subang Tesla lagi sariawan. Terus saya bilang, kamu minum air suci di sini sambil doa minta disembuhin sariawanmu. Dan ternyata sembuh beneran! Lalu sekarang di Sendang Sono, Tesla kebetulan sariawan lagi. Dan kembali saya suruh minum air suci sambil doa yang sama…dan percaya atau tidak, pulangnya sariawannya sembuh!

sebelum pulang, seperti biasa foto-foto dulu lah ya…

Dari Sendang Sono ke Borobudur jaraknya ngga jauh. Sekitar jam 3an kami sampai di Borobudur. Busyet penuhnya parkiran. Beli tiket masuk 30 ribu per orang. Di dalam ada kereta mini yang nganterin kita berkeliling dan turun di pintu masuk candi. Dari gerbang bisa juga jalan kaki ke candi cuma lumayan jauh. Enaknya naik kereta yang kayak di Mekar Sari ini, kita diajak muter dulu jadi bisa ngeliat betapa luasnya komplek candi ini.

Waktu sampai di pintu masuk candi, di sana penuh orang yang mau naik tangga candi. Waduh ramenya, mesti desak-desakan ngeri juga. Tapi untungnya pas dah di atas mulai lebih lega, walau pun tetep aja nyari spot buat motret agak susah karena pasti ada banyak orang yang melakukan hal yang sama.

Setelah motret sana sini, kita turun lagi. Rencana pengen balik ke Jogja sore biar sempet jalan ke sekitaran Benteng Vredenburg dan keraton. Pas turun, eh ada rombongan bikkhu yang ternyata dari Tibet. Kami sempet minta foto bareng.

Jalan keluar ke parkiran, seperti juga di Prambanan, melewati pasar oleh-oleh. Di sini penjual lebih agresif nawarin barang, walau pun ngga sengotot di daerah Kintamani Bali yang suka maksa dan ngikutin kemana-mana. Cuma kalo belanja di sini kudu kejam nawarnya karena mereka juga ngasih harga awal bisa 2-3 kali lipat. Jadi souvenir candi yang 25 ribu saya tawar 10 ribu, kaos 45 ribu ditawar 15 ribu.

Ternyata masuk Jogja lagi udah malam, dan lagi-lagi saya kesel dengan leletnya si sopir. Kalo saya yang bawa mah dah tancap gas dari tadi. Akhirnya mampir ke Beteng dulu (toko oleh-oleh kayak Mirota) terus lanjutin ke Benteng Vredeburg.

Perpaduan malam minggu dan long weekend bikin ujung Malioboro ini padat banget. Aduh, lain kali saya males ke daerah ini lagi. Nyari makan juga susah dan jauh. Akhirnya balik ke hotel jam 9an.

Wuaah, anyway hari ini sangat menyenangkan. Yang paling bikin saya berkesan adalah yang di Merapi. Gunung ini indah banget, saya juga suka liat Cangkringan dan makan jadah tempe di sana. Lain kali saya pengen ke sana lagi. Saya juga berharap akan banyak orang datang ke sana. Jangan menganggap orang datang ke sana nontonin musibah ya, tapi pikirlah bahwa dengan kita datang ke sana, membeli dagangan mereka, menggunakan jasa mereka, orang-orang itu bisa bangkit. Malam ini saya berdoa untuk mereka…

Pos ini dipublikasikan di Jalan-jalan dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yogya day 3: Merapi – Sendang Sono – Borobudur

  1. Vig berkata:

    bulan dpn sy ad rencana wisata ke jogja, ini brmanfaat, trima ksih…. Tuhan berkati….

Monggo diberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s