If tomorrow never comes…

Dengerin lagu seperti judul di atas…hati kadang kayak diiris-iris…Lagu itu begitu indahnya mengungkapkan perasaan cinta yang sangat mendalam…dan lebih menyayat lagi waktu dinyanyiin oleh Kevin Skinner pemenang Americas Got Talent dulu.

Ah kadang saya juga suka tercenung…seandainya ini adalah hari terakhir saya hidup di dunia ini, apa yang akan saya lakukan? Melakukan sesuatu yang terbaik dan sangat berkesan untuk orang yang saya sayangi? Melakukan perbuatan baik sebanyak-banyaknya untuk bekal menghadapNya besok? Atau meratap mohon ampun kepadaNya atas semua dosa yang saya lakukan selama ini? Atau justru tidak melakukan apa-apa? Saya sendiri juga bingung…

Saya pernah ngobrol ke temen tentang pilih mana antara kena kanker yang tak mungkin diselamatkan atau kena serangan jantung yang langsung selesai hidup ini? Ada dua sudut pandang antara kami berdua. Saya bilang, kalau kena kanker itu saya sudah tau kapan waktu saya berakhir..jadi saya bisa bikin schedule (dasar project manager ya) apa aja yang saya lakukan untuk mwngisi hari-hari terakhir, jadi ada waktu untuk bertobat. Paling ngga peluang masuk surga jadi lebih besar.
Kalau kena serangan jantung yang bikin mati mendadak, ngga sempat bertobat tau-tau dah di gerbang ditungguin malaikat yang memvonis tujuan akhir kita.
Tapi kalau kanker, kasian anak istri yang harus merawat saya, dan harta juga bakal habis buat berobat toh akhirnya mati juga. Sedangkan kalau kena jantung, desss langsung game, ngga keluar biaya.

Mau pilih yang mana? Kalau saya, saya milih kena jantung yang langsung game aja. Matinya hemat hehehe…wah ngga sempet bertobat dong, kata temen saya…nah itulah gunanya belajar agama…di alkitab agama saya ada tertulis, berjaga-jagalah, karena kamu tidak akan pernah tahu kapan saatnya tiba. Jadi, kalau hari ini kayaknya bukan saatnya, ya ayo berbuat baik dan bertobat. Jadi kalau ternyata tomorrow never comes kita sudah siap.

Untuk keluarga saya pun saya juga akan bersikap as if tomorrow never comes. Kalau masih bisa jemput anak, saya akan jemput. Kalau masih bisa ngajak main bola, saya akan main bole. Atau berenang..atau pergi liburan…memberikan waktu terbaik untuk keluarga yang saya sayangi.

Ada sahabat saya yang meninggal karena kanker. Di akhir-akhir waktunya, saya dengar dia jadi lebih dekat lagi bersama anaknya. Ngajarin anaknya bikin barang kerajinan untuk dijual. Main ke mana-mana walau pun sebenarnya secara fisik dan finansial dia sudah mulai kepayahan. Tapi saya ngeliat dia memberikan waktu terbaik untuk anaknya. Best moment. Saya iri ama dia. Dan pada akhirnya saya berpikir untuk menirunya. Ya, sekarang walau pun saya sedang serius banget di kamar ngerjain kerjaan saya, anak saya ngajak main bola, saya akan hentikan kerjaan dan ngajak main dulu. Toh saya bisa lanjut lagi setelah dia tidur.

Give your best moment now…

Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag . Tandai permalink.

Monggo diberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s