In Memoriam : Mama yang telah pergi setahun lalu

29 Mei 2011. Hari ini kesedihanku dua kali. Pertama karena hari ini, 6 tahun yang lalu, anak kami Yudhistira pergi meninggalkan kami. Kedua, karena hari ini (sebenernya tgl 30 waktu Bali, tapi masih tgl 29 waktu Jakarta), Mama pergi meninggalkan kami. Ya, waktunya bertepatan, saya hanya berharap Mama ketemu Yudhis di surga.

Setaun lalu, sama sekali ngga ada firasat Mama bakal pergi. Waktu mendengar kabar dari adik kalo Mama jatuh sewaktu mau berdiri dari tempat duduk setelah nonton tivi, saya nyangkain Mama akan kayak Papa, kena stroke. Waktu Mama diantar ke rumah sakit, sempat saya ngomong di telepon dengannya, dia bilang, “Ciang, baik-baik ya. Nanti kamu jangan sedih ya.” Itu pun saya ngga berfirasat itu mengandung arti beliau akan pergi.

Setelah hampir seminggu menunggui di rumah sakit, dengan penuh kekhawatiran akan adanya serangan jantung susulan, akhirnya apa yang saya takutkan terjadi juga. Malam sebelumnya Mama minta saya tidur dekat-dekat dengannya (akhirnya saya tidur sambil duduk di sebelah tempat tidurnya) karena takut katanya. Esoknya, tengah malam, setelah kondisi Mama menurun akibat ngga mau makan dan kedinginan karena efek suntikan insulin, Mama mulai terbatuk terus dengan nafas terengah-engah. Terus Mama muntah, tapi ngga keluar apa-apa karena memang ngga makan dari malam sebelumnya. Setelah batuknya berhenti, Mama bicara sangat pelan, mungkin memberikan pesan terakhirnya. Saya sudah berusaha mendengarkan dengan menempelkan kuping di dekat bibirnya tapi sama sekali ngga nangkap apa yang dikatakannya (hal saya sesali sampai sekarang). Berulang saya bertanya apa yang Mama bilang. Sampai akhirnya Mama diam, menutup matanya dan keliatan tertidur. Tapi lalu Mama menangis. Saya berusaha menghibur dan menenangkannya, tapi mungkin tangisannya adalah buah kesedihannya akan meninggalkan kami dan ketakutannya mengakhiri semua ini. Dan saya juga masih tidak menyadari itu. Karena tangisannya, nafasnya jadi tersengal-sengal lagi…tapi sampai satu saat, tiba-tiba semuanya berhenti. Saya langsung panik, saya bilang ke adik dan ipar saya yang juga ada di ruangan, gimana nih nafasnya berhenti. Saya panggil dokter, kemudian dokter berupaya mengembalikan denyut jantung dengan alat kejut listrik dan pompa tangan. Setelah 45 menit berlalu dan tim dokter mulai kelelahan, tapi waktu dicek retinanya masih bereaksi terus. Dan secara medis berarti dia belum meninggal jadi tim dokter harus berusaha terus tidak boleh berhenti.
Saya lalu terpikir, mungkin ada yang Mama tunggu. Memang saat itu adik dan kakak masih ada yang di Denpasar. Apa Mama ingin mereka semua hadir dulu? Ah, ngga tega rasanya beliau harus menunggu lebih lama. Jadi saya elus kaki dan tangan Mama, saya bisikkan, pergilah Ma…ngga ada yang perlu ditunggu lagi. Walau pun ngga semua hadir di sini, tapi kami semua ikhlas kalo Mama pergi sekarang. Papa juga pasti sudah menunggu Mama untuk bisa berkumpul kembali. Lalu saya berdoa Salam Maria. Entah karena perkataan dan doa saya itu atau memang sudah waktunya, setelah itu denyut jantung Mama benar-benar hilang diitandai dengan garis lurus di layar dan retinanya tidak bereaksi lagi ketika disorot senter. Dan dokter mengangguk ke saya, menandakan semuanya sudah selesai.
Ah…kembali lagi terjadi. Selesai sudah…sama seperti Yesus yang menyerahkan nyawanya saat itu. Sama seperti Yudhistira yang pergi 6 tahun yang lalu.

Kesedihan tidak hadir di sana saat itu. Kelegaan lah yang saya rasakan. Dan kebahagiaan. Ya, saya bahagia, karena pada akhirnya Mama ketemu dengan Papa lagi. Dari omongan Mama kalo cerita tentang Papa, keliatan banget kalo beliau kangen banget sama Papa. Jadi saya ikhlas. Saya ngga boleh bersedih karena toh beliau sudah bahagia ketemu Papa lagi. Tapi tak urung, saat saya bersujud terakhir kali di hadapan jenasahnya, hati ini rasanya ditusuk-tusuk, sakit sekali. Terbayang semua pengalaman hidup saya sejak kecil bersama beliau yang begitu banyak melimpahkan kasih sayangnya. Dan masih belum cukup rasanya waktu yang diberikan untuk membalas semua yang beliau berikan.

Kadang kalo saya lagi nyetir atau lagi bengong nunggu meeting dengan klien, saya terkenang Mama dan rasanya kangen banget. Karena biasanya saya akan nelpon Mama untuk nemenin ngobrol.

Ah… Mama, may you rest in peace…semoga kelak Tuhan berkenan mempertemukan kita semua lagi di Surga…

Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Renungan dan tag , , . Tandai permalink.

Monggo diberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s