Terima kasih Rendra…

Setiap tahun, saya selalu membaca lagi sajak Rendra ini. Dan saya dengan tulus berterima kasih, karena sajak ini membuka mata saya, mengembalikan semangat hidup saya, setelah sempat berhari-hari tenggelan dalam kesedihan karena kepergian anak kami Yudhistira.

RENUNGAN INDAH
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Nukilan:
W.S Rendra

Sekarang, kepergian anak kami selalu kami kenang dengan penuh syukur (walau pun masih sedih juga tapi bukan lagi karena ketidakrelaan tetapi karena rasa kangen kami padanya). Karena kami sadar, yang Tuhan rencanakan untuk kami pastilah yang terbaik dan indah. Dan kami menyadari, semua yang kami miliki sekarang adalah milikNya. Kapan pun Ia menginginkan untuk menariknya kembali kami harus ikhlas, dan percaya, itu pasti yang terbaik buat kami. Dan akan ada sesuatu yang indah di balik semua itu.

Terima kasih Rendra…

Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , , . Tandai permalink.

Monggo diberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s