In Memoriam : Yohanes Komang Yudhistira 28 Mei 2005 – 29 Mei 2005

Ah, waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa 6 tahun sudah anak kami Yudhistira meninggalkan kami. Dan tak terasa satu tahun berlalu sejak saya termenung sendiri di beranda atas, menatap ke arah Pondok Rangon, tempat ia bersemayam dalam kedamaian…puisi yang saya tulis di hape saya saat itu pun masih tersimpan.
Tak bisa tidur karena dada sesak mengingat semua yang terjadi 6 tahun lalu, akhirnya saya cari-cari di hard disk lama, sebuah cerita yang saya tulis 6 tahun yang lalu, seminggu setelah kepergian anak kami. Dan sambil menuangkan cerita itu di sini, semua kenangan itu mengalir kembali….

Selasa kemarin papa mondar mandir, ke rumah bibi, bayar kartu, transfer dll. Terus rencana mau ke kantor mau ngajukan klaim. Tapi ngga jadi karena udah kesiangan, jadi papa mutuskan mau pulang aja nemenin mamamu yang masih sedih kamu tinggalin. Di tengah jalan papa tiba-tiba kok pengen banget menengokmu di Pondok Rangon. Jadi lah papa langsung memutar haluan lalu berangkat ke makammu.

Nak, papa bersimpuh di pusara yang masih segar, milikmu. Ya, beginilah rupanya akhir perjumpaan kita ya. Hanya satu hari, tapi kamu dapat merasakan elusan tangan papa, mendengar bisikan dan kata-kata papa, dan mengetahui bahwa kami sangat sayang kepadamu.
Tentu kamu masih akan ingat terus walau pun kamu sekarang bergembira di pangkuan Yesus yang sangat menyayangimu. Kami pun tidak akan melupakan kenangan yang walau pun sangat singkat tapi terasa sangat berkesan. Karena kesedihan, kepasrahan, kegembiraan dan harapan semua menyatu saat itu.

Yudhistira namamu. Kami beri nama itu, karena Yudhistira adalah tokoh wayang yang paling jujur dan sabar. Kami mengharapkan engkau dapat melengkapi keluarga kita dan menjadi penghibur serta pelindung kakak-kakakmu. Yohanes nama baptismu, kami ingin engkau menjadi kesayangan Yesus seperti muridNya ini. Komang nama depanmu. Nama Bali, berarti anak ketiga, untuk menunjukkan identitasmu sebagai anak Bali yang bisa dibanggakan. Yohanes Komang Yudhistira nama lengkapmu. Nama yang sangat indah, dan akan kami banggakan selalu.

Anakku, kalau kamu tahu, yang paling menyakitkan hati papa adalah baru merasa memiliki kamu setelah kamu tidak ada. Dari awal kehamilan, kami merasa biasa-biasa saja, dan belum ada persiapan apa pun untuk menyambutmu. Mamamu yang rajin mengelus perutmu, memutar lagu klasik untuk menghiburmu, dan menyiapkan album foto untuk bisa kamu lihat-lihat setelah kamu besar nanti. Entah karena sudah berfirasat bahwa kamu tidak akan tinggal bersama kami, atau karena memang papa sudah terbiasa dan tidak perhatian lagi, yang pasti selama kamu di perut mama, papa sangat sedikit sekali menaruh perhatian kepadamu. Itulah yang selalu membuat papa bersedih setiap mengingatmu. Maafkan papa ya nak…

Informasi dari dokter yang berbicara secara blak-blakan itu rasanya sangat menyakitkan. Kelihatannya papa sangat tenang dan bertanya terus untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap dari dokter. Dalam hati papa, ternyata akhirnya kejadian menyakitkan yang sering menimpa orang lain akan menimpa keluarga kita juga. Tak pernah terbayangkan bahwa akhir dari penantian kami akan seperti ini. Kami berusaha mencari dokter lain dengan harapan mendapatkan kepastian tentang apa yang sebenarnya terjadi pada diri kamu. Tapi hasil diagnosa dokter sama, menyatakan kamu tidak akan bisa diselamatkan.

Sedih, itulah yang kami rasakan dalam saat-saat menjelang kelahiranmu. Dan pada saat kamu lahir, papa melihatmu pertama kali, bangga sekali papa karena kamu adalah putera papa yang kedua. Waktu pastor membaptismu, kamu berkerenyit dan kelihatan seperti menghindari tangan pastor. Oh, senangnya papa karena kamu bisa merespons sentuhan. Papa pegang tanganmu, yang sangat kecil dan kelihatan ringkih sekali. Kalau dulu kami melihat bayi yang sangat kecil, kami tidak akan pernah berani memegangnya karena merasa kasihan. Tetapi ini kamu nak, dan papa sangat bangga walau pun kamu lahir dalam kondisi seperti itu.

Lima jam berlalu, papa terus bolak balik menengokmu di ruang ICU. Ternyata kamu dapat bertahan walau pun dengan bantuan mesin ventilator, sementara dokter sudah memperkirakan kamu hanya dapat bertahan kurang dari 1 jam. Detak jantung stabil dan dalam batas normal. Setelah melihat hasil rontgen, ternyata diagnosa dokter sebelumnya bahwa kamu tidak memiliki lambung adalah salah. Kamu punya lambung, tapi kamu mengalami hernia ke atas, jadi usus naik menghimpit paru-paru. Kata dokter kamu tidak akan dapat bertahan, tapi melihat kondisimu hari itu papa seakan mendapatkan harapan baru. Ayo jagoanku, ayo tunjukkan kalau kamu kuat dan dapat bertahan. Kalau kamu bisa bertahan, ayo kita cari jalan supaya kamu bisa disembuhkan.

Setelah 1 malam berlalu, pagi-pagi papa menengokmu kembali ke ICU. Tapi kondisimu ternyata mulai menurun. Detak jantung mulai di bawah normal. Dan ternyata hasil scan kepalamu menunjukkan adanya perdarahan di otak. Papa langsung lemas, tidak akan ada harapan lagi. Setelah sebentar menengok mamamu, papa menungguimu dengan harapan dapat mendampingi kamu saat kamu berpulang ke rumah Bapa di surga. Setiap menit berlalu dengan kondisi kamu yang semakin memburuk. Saat grafik jantungmu hanya berupa garis datar, rasa sedih ini tak tertahankan. Akhirnya kamu meninggalkan kami nak. Kusentuh pipimu yang pucat, jari-jarimu yang mungil, alismu yang mirip dengan papa (satu-satunya anak papa yang mendapat turunan alis seperti ini, sejak dari buyut papa). Lalu papa berdoa sebentar menyerahkan engkau sepenuhnya ke tanganNya. Selesai sudah…sama seperti Yesus di saat terakhir akan menghadap BapaNya.
Selamat jalan anakku yang kukasihi. Berbahagialah bersama Yesus di surga. Kami akan selalu mengenangmu sebagai anak kami yang kuat. Semoga kelak kami diperkenankan Bapa untuk bertemu denganmu di surga…

Could you know my name….
If I saw you in heaven…
Would it be the same…
If I saw you in heaven…

Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Renungan dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke In Memoriam : Yohanes Komang Yudhistira 28 Mei 2005 – 29 Mei 2005

  1. tanty tarigan berkata:

    yudhis………tiap ingat kamu dan daniel bibi tidak bisa menahan kesedihan dan air mata, tapi dlm kepedihan mendalam bibi akhirnya menyadari satu rencana besar Tuhan yg mengubah keseluruhan hidup keluarga besar kita, penyerahan total kepada Tuhan dan pada semua rencana dan kehendakNya, mengubah keimanan kami untuk lebih mendekatkan diri dan aktif dalam melayani Tuhan, dan membuka jalan bahwa untuk bisa kelak hidup bahagia bersama kalian adalah dengan hidup baik seturut kehendakNya, sekarang kalian sudah “bertiga” seperti “three Musketers”, seperti “trinitas”…….bibi titipkan pesan untuk menjaga april dengan baik dan sampaikan salam rindu dan cinta bibi padanya……….bibi sangat mencintai kalian……….

Monggo diberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s