Nak mule keto (emang dah gitu)

Beberapa waktu lalu saya disemprot oleh seorang klien…ibu-ibu lagi…merepet ngga bisa direm mulutnya (kalo istri saya merepet gitu sih saya punya cara untuk menghentikannya hehehe..you know what I mean).
“Mestinya Anda pelajari dulu sistem yang ada di sini, tanya ke orang lama, sejarahnya kenapa kok itu dibuat kayak gini. Kami ngga bodoh lah, pasti ada alasannya kenapa itu dibuat seperti ini.”

Saya cuma manggut-manggut, rada bingung karena dia banyak pake kata ini dan itu. Tapi dalam hati saya membenarkan. Saya datang dan nanya-nanya ke counterpart tapi ga ada penjelasan apa-apa dan langsung judge sistem mereka ngga seperti yang biasa dipakai di tempat lain, jadi sebaiknya diganti. Ya terang aja dia ngamuk-ngamuk…karena ternyata dia dulu salah satu anggota tim penyusun sistem itu hehehe. Ga terima dia kalo sistem hasil maha karyanya diganti gitu aja oleh konsultan yang cengar cengir di depannya.

Tapi pengalaman dan kelihaian menghadapi ibu-ibu akhirnya berhasil membuat dia bisa tersenyum lagi…pada akhirnya.

Anything happens for a reason. Ya pasti ada sebab atau alasan. Tapi sayangnya kita suka lupa nyari tau alasan itu atau sering mengambil kesimpulan tanpa memperhatikan itu. Tapi di lain kasus kita dah ingat menanyakan alasan itu, eh yang ditanya ngga tau sejarahnya gimana kok bisa begitu.

Saya jadi teringat cerita Antony de Melo. Di sebuah biara, sang Guru nemu kucing di jalan dan karena kasian dibawa untuk dipelihara di biara. Malam itu ketika sang Guru dan murid-muridnya sedang tekun berdoa dalam keheningan, tiba-tiba ada suara kucing mengeong-ngeong. Lama-lama karena ngga tahan dengan gangguan suara itu, sang Guru memerintahkan si kucing diikat di sebuah tiang di tengah lapangan yang jauh sehingga suaranya ngga akan kedengeran dari dalam biara. Besoknya, supaya ngga terganggu lagi, sang Guru nyuruh ngiket kucing itu lagi. Begitulah, setiap hari sebelum berdoa, ada seorang murid akan ditugaskan mengikat kucing ke tiang di tengah lapangan. Sampai sang Guru kemudian wafat, aktivitas itu tak pernah lupa dilakukan. Kemudian kucing itu juga mati, muridnya beli kucing baru untuk diikat di tengah lapangan.
Itulah, tradisi dilanjutkan tanpa ngeliat alasan di belakangnya

Dulu waktu saya baru pindah rumah, saya miris ngeliat ada ibu-ibu yang ngebentak-bentak anaknya. Saya ngomong ke pembantu saya, ibu itu galak amat sih, kayaknya dia stres tuh ngurus anak. Saya dah ngambil kesimpulan hanya berdasarkan analisa abu.
Terus dalam satu pertemuan warga, saya sempat berbincang dengan suaminya. Ternyata, anaknya itu emang harus diajak ngomong dengan suara keras kayak ngebentak, karena dia ada kelainan kayak autis. Waduh saya jadi ngerasa bersalah banget sama si ibu. Dan si ibu ternyata suaranya manis banget hehehe…

Ya, saya dapet pelajaran lagi, cari tau dulu alasan akan sesuatu sebelum kita menyimpulkan atau mengambil tindakan. Di Bali ada kata-kata “Nak mule keto”. Artinya, emang dah gitu. Emang udah dari sononya. Nah, jangan keluarkan kata-kata yang bikin jengkel ini ya🙂

Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , , . Tandai permalink.

Monggo diberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s