Papa ngga pulang, baby…

Pagi ini waktu nganter anak ke sekolah di tengah ujan, di jalan ada temen sekelas anakku lagi jalan kaki dengan ibunya ujan-ujanan. Kami ajak ikut ke mobil daripada basah-basahan khan kasian.

Tapi urusan sama ibu anak ini jadi cukup panjang karena sampai sekolah baru ibunya bilang dia mesti ke swalayan beli snack buat anaknya. Walah kenapa ga bilang tadi bu kan tadi kita lewatin. Kata si ibu ya ga papa pak, saya jalan kaki aja. Tapi masa iya saya tega biarin dia pergi keujanan. Akhirnya saya antar dengan mobil, ke swalayan terus balik lagi ke sekolah, terus sekalian ke Cibubur karena searah. Maka mulailah percakapan untuk berkenalan lebih jauh. Eh ternyata dia tetangga saya di rumah saya yang lama. Usut par usut, suaminya pelaut, pulang setaon sekali. Hayo…jangan mulai mikir macem-macem ya. Memang saya langsung berpikir, kasian amat ibu ini. Tapi setelah itu yang muncul dalam pikiran saya (hussh, bukan pikiran jorok kok) kenapa kita bisa mengambil keputusan bekerja dengan ninggalin keluarga.

Dulu, sejak saya nikah taon 98 sampai 2005, saya sering ditugaskan keluar kota. Pergi Senin pulang Jumat, 2 minggu berikutnya. Saat ada anak, sering kangen pengen pulang. Saat anak tambah gede, sakit banget rasanya ninggalin si kecil yang terpaksa ditinggal waktu dia tidur (kalo lagi bangun bakal nangis teriak-teriak ga rela bapaknya pergi). Apalagi si pengasuhnya cerita, kalo denger ada suara mobil lewat depan rumah, anak saya langsung lari buka pintu sambil teriak cadel…papa puyaang. Rasanya hati ini ditusuk-tusuk. Taon 2005 untunglah saya ga sering-sering pergi lagi. Apalagi sekarang setelah jadi tentara bayaran.

Si ibu itu gimana? Dia mengeluh anaknya ga ada takutnya sama dia, manja dan keras kepala. Jelas ia butuh kehadiran ayah. Ga ada yang diajak cerita, main bola, dan kegiatan bersama lainnya.

Baru kemarin juga saya ngobrol ama klien yang juga pisah dengan keluarganya yang di kota lain, bagaimana hubungan dia dengan anak-anaknya. Terus saya cerita tentang teman saya yang memanfaatkan teknologi video chat untuk tetap bisa dekat dengan keluarganya di Indonesia.

Saya sendiri sekarang bisa banyak waktu buat anak, antar jemput, main bola dsb…itu adalah pilihan yang saya ambil. Orang lain mungkin memilih berkarir dengan risiko meninggalkan keluarga, itu pilihan mereka. Tapi saya yakin sebagian dari mereka akan merasa perih dengerin lagu Michael Buble – Home. Atau jangan-jangan waktu pulang dipanggil Oom sama anaknya hehe…

Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Renungan dan tag , . Tandai permalink.

Monggo diberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s