Bersyukur dalam segala hal

Hari ini bingung mau nulis apa. Seharian ini yang kepikir terus adalah mau kemana jalan-jalan sama keluarga waktu liburan. Padahal jadual liburan tahun ini sudah full-booked, tiket dan hotel sudah dipesan semua. Tapi mau nulis tentang rencana liburan, males ah, ntar pada tau saya mau kemana khan ngga asik (takut ada yang nitip oleh-oleh hehehe).

Tapi malem ini sambil ngerjain tugas, ada satu pikiran yang tersirat. Ini gara-gara saya memikirkan tentang satu teman saya yang bisa-bisanya kerjanya jalan-jalan mulu. Duitnya ngga abis-abis, waktunya juga. Kok saya sirik yah…dan akhirnya saya menenangkan diri dengan berkata…harusnya kamu bersyukur atas semua yang sudah kamu dapatkan. Kenapa masih iri dengan apa yang didapat orang lain?

Ya, harusnya saya bersyukur. Kalau kita melihat keberhasilan orang, sering kita merasa orang itu lebih beruntung daripada kita, ya ngga. Ih, enak banget dia ya bisa jalan-jalan terus. Enak banget rumahnya ya, gede halaman luas. Enak banget dia punya pasangan yang mau nemenin kemana pun dia pergi. Enak banget dia…dia..dan dia..kok yang enak dia terus ya? Apa ngga ada sesuatu dalam diri saya yang membuat saya merasa beruntung? Ada sih, itu juga setelah ada temen yang bilangin. Enak lu ya, ngga kerja kantoran kayak gua. Mau ngapain aja suka-suka. Enak lu ya, punya 2 anak yang lucu dan ngga ngerepotin. Enak lu ya…dst. So? Ya gitulah. Rumput tetangga selalu lebih hijau, padahal kita punya kembang yang indah di taman kita. Every one has his own point of interest.

Dan harusnya, kita bersyukur dalam segala hal. Dalam kegembiraan maupun kesulitan. Saya selalu teringat ucapan, dalam setiap kesulitan Allah memberikan kebaikanNya untuk kita. Jadi jangan khawatir, semuanya indah pada waktunya.

Saya jadi teringat cerita yang juga pernah disampaikan Andri Wongso tentang menteri raja.
Kalo ngga salah, ceritanya tentang raja yang gemar berburu dan selalu didampingi menterinya yang setia. Satu ketika saat berburu salah satu jari raja terpotong. Saat kejadian itu raja begitu sedih karena menjadi cacat. Menteri menghiburnya dengan berkata, Fang Su Gan Ji…apa pun yang terjadi patut disyukuri. Raja jadi marah, dah cacat kok malah disyukuri. Si menteri ditangkap dan dipenjara. Lalu si raja berburu lagi sama menteri yang baru. Saat berburu, dia dan menteri baru terpisah dari pengawalan dan tertangkap suku kanibal. Saat keduanya akan dijadikan kurban, ternyata suku itu melepaskan sang raja karena cacat jarinya dan tidak pantas jadi persembahan kurban. Dia melarikan diri kembali ke kerajaannya. Lalu dia membebaskan menteri yang setia itu dan menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Kata sang menteri, benar khan paduka, apa pun yang terjadi patut disyukuri. Kalau paduka ngga cacat, pasti paduka sudah dijadikan kurban persembahan. Dan kalau paduka tidak memenjarakan hamba, pasti hamba lah yang menjadi kurban persembahan itu.

Di balik semua peristiwa itu, ada maksudnya Ia membiarkan kita mengalaminya. Jadi, bersyukurlah senantiasa.

Tapi tetep aja kepikiran…taun depan mo jalan kemana ya? Hehe…

Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , . Tandai permalink.

Monggo diberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s